Rabu, 11 April 2012

My Best Friend or My Enemy



Mataku tiba-tiba saja terbuka. Ini bukan pagi yang mengenakan. Kepalaku pusing dan tubuhku lemas namun hasratku yang memaksa bangun dari ranjang. Tanpa perlu melihat jam, aku tahu aku terlambat. Aku tipe yang jarang terlambat berangkat sekolah dan jika sampai terlambat, itu tandanya ada sesuatu mengganjal pikiranku. Memang, semalaman aku memikirkan seseorang. Chris tentunya.
Aku sendiri tidak tahu sejak kapan aku mulai membuka diriku untuk orang lain selain Aqua selama ini. Trauma yang aku tidak pernah tahu sebabnya, membuatku takut untuk terbuka dengan orang lain walaupun aku masih bisa bergaul dengan yang lain. Aku takut untuk mencampuri urusan di luar kendali diriku sendiri terlalu jauh. Aku memiliki dinding tersendiri dalam membatasi pergaulanku dengan orang lain.
Perasaanku tidak enak pagi ini dimulai sejak membuka mata hingga sekarang aku melangkahkan kaki. Semacam perasaan khawatir, sedih dan gelisah. Aku berani yakin dan bersumpah pada perasaanku bahwa akan ada sesuatu yang terjadi. Aku yakin benar. Seringkali naluriku tidak salah.
Perlahan ketika berdiri di depan gerbang sekolah, aku rasakan suasana hangat yang tidak nyaman di tubuhku. Aku sadar langkah kakiku tidaklah ringan. Dari luar, mungkin ekspresiku datar. Tetapi selagi aku masih seorang manusia, perasaanku takut bukan main. Bisa kurasakan badanku gemetar. Baik, aku tampak berlebihan dalam mengekspresikan perasaanku sekarang tapi sungguh itulah yang aku rasakan.
Voila! Benar saja, di depan kelas Aqua menungguku. Wajahnya masam. Tidak, itu bukan ekspresi masam. Itu wajah seekor harimau ingin menerkam seekor rusa naif yang tak berdaya. Anggap saja rusa itu aku. Aku memang tidak tahu harus berbuat apa ketika melihat Aqua. Aku hanya berdiri menatapnya. Dalam diam. Aku cuma mencoba berjalan seperti biasa ke arah kelas dengan jantung yang bertabuh begitu keras.
“Siapa kamu?” tanyanya seperti biasa. Seperti orang yang sedang bercanda. Tidak, bukan! Seperti pertanyaan tuduhan.
Keringatku menetes. Jantungku tersentak. Aku kaget tetapi masih dengan ekspresi yang sama, wajahku tidak terlihat terkejut. Hanya mataku saja yang berkedip.
“Aku tanya, Siapa kamu?? SIAPA!!!??? Nyapa nggak! Minta maaf nggak!! TERUS SIAPA?? Kamu anggep aku apa selama ini?”
Aqua mulai berteriak di depanku. Semua orang mulai memusatkan perhatiannya pada kami berdua. Bisa aku lihat bahwa ekspresi Sang Dewi menatapku dengan tatapan menyalahkan. Aku tahu itu.
“Kalo gitu, kasih tahu aku salah apa.” Cuma itu yang bisa kukatakan dan respon Aqua sungguh sesuai dengan apa yang aku prediksi. Dia melengos.
“Aku kasih tahu kamu? Kamu minta itu? Sampai kapan kamu punya inisiatif sendiri? Oke, aku sendiri sebenernya nggak merasa ada suatu masalah besar di antara kita. Masalah itu cuma ada di kamu! Respon kamu! Kepedulian kamu ke aku! Ada nggak sih?”
Aku kembali diam. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Lagi.
“Selama ini aku coba tolerir semua kekurangan kamu. Kamu mungkin nggak suka shopping kayak anak cewek lainnya, aku terima. Paling nggak rayain ulang tahun kecil-kecilan, tapi aku masih maklum. Kamu bahkan nggak pernah hibur aku ketika lagi sedih, tapi aku maklum. Mungkin memang kamu nggak bisa dan ternyata... sampai selamanya pun kamu nggak bisa. Karena apa? Kamu nggak  mau ngerespon aku! Gini aja, mungkin kita nggak cocok. Anggap kita temen biasa. Impas!” setelah mengatakan itu Aqua pergi. Meninggalkanku bersama orang-orang lain yang sok mengerti masalah kami dan memandangku sama dengan cara Sang Dewi memandangku.
Kepalaku kembali terasa berdenyut dan badanku semakin merasa lemas tetapi hatiku terasa lebih longgar. Sesuatu baru saja terjadi. Paling tidak aku sudah tidak dihantui rasa penasaran. Aku segera saja masuk ke kelas. Peduli apa dengan pandangan orang lain? Aku bisa hidup tanpa mereka. Sekarang yang aku pikirkan hanyalah bagaimana cara menghilangkan rasa pusing saat ini.
Pelajaran pagi ini pun sama sekali tidak masuk ke otakku. Berkali-kali pandanganku buram. Mungkin saja aku terlalu kelelahan karena hanya sempat tidur selama 3 jam. Hidungku terasa mengeluarkan lendir. Tidak ini lebih cair. Mulai kurasakan itu menetes hingga ke buku lalu mejaku.
“Tara, kamu mimisan?” Farriz memandangku terkejut.
Darah? Aku cepat-cepat meletakkan tanganku untuk menutupi lubang hidungku dan mendongakkan kepalaku ke atas. Aku tidak tahu begini jadinya. Dalam keadaan seperti ini, aku merasa tidak mampu menatap Aqua, seseorang yang biasa kupandang saat aku merasa ada masalah datang menghampiriku. Tetapi kali ini, aku memilih menjadi pengecut untuk tidak menjatuhkan pandanganku padanya. Aku terlalu takut melihat mata yang terluka karena aku.
“Mau aku kasih tahu guru?” tanya Farriz lembut.
“Eh, nggak usah!” jawabku cepat. Aku hanya tidak ingin orang-orang tahu dan memang inilah kebiasaanku.
“Tapi kamu nggak mungkin angkat kepalamu terus-terusan.”
“Tenang aja, aku nggak apa-apa. Darahnya cuma keluar sedikit.” jawabku asal.
Farriz, dia mengerutkan keningnya dan aku tidak mau menatapnya terlalu lama. Dia akan tahu aku bohong. Tetapi dia tidak banyak berkutik dan akhirnya tetap fokus pada pelajaran. Tidak seperti aku. Aku tidak bisa fokus hari ini. Kepalaku pusing dengan apa yang terjadi hari ini. Yap, mungkin aku belum siap dan terlalu pengecut menghadapi ini semua.
Aku mulai menegakkan kepalaku lagi. Aku tidak bisa begini terus. Teman-teman akan curiga. Akhirnya aku menutupi hidung dan mulutku. Berjaga-jaga tidak ada yang tahu aku mimisan. Jika ada yang tanya, jawab saja kalau ingusku keluar.
Tidak kusadari, Farriz menyingkirkan tanganku dan meletakkan sapu tangannya di hidungku.
“Itu lebih baik daripada kau menutupnya dengan tanganmu.” kata Farriz kemudian tersenyum. Ada kalanya dia bisa jadi pahlawan, batinku dalam hati.
Ketika bel berbunyi, aku berniat pergi ke WC untuk membersihkan hidungku yang terasa lengket karena darah hingga sapu tangan Farriz pun hampir berubah warna karena sudah tidak mampu menyerap darahku. Mungkin aku saja yang tidak mamu mendongakkan kepala sehingga darah tersebut terus mengalir.
Sedari tadi, kepalaku masih saja terasa berdenyut. Aku berjalan perlahan khawatir badanku akan ambruk. Air kran sedikit menyegarkan wajahku yang terasa panas. Ku lihat bayanganku di kaca. Seorang gadis kurus dengan wajah pucat yang mengerikan. Aku hampir tidak ada bedanya dengan hantu sekolah. Mengerikan.
Tiba-tiba terdengar suara pintu WC terbuka dan dari sana 4 cewek cantik (nggak panas ya?) keluar berurutan menatapku. Iya, siapa lagi kalau bukan Sang Dewi? Mereka senang dengan keadaanku yang mengerikan ini dan aku malas sekali menghadapi mereka hari ini. Tubuhku terasa berat untuk digerakkan. Aku mencoba untuk keluar dari WC. Dari situ Jizie menghadang. Ini pertama kalinya aku merasa takut dengan Sang Dewi. Aku sadar kondisiku sedang lemah dan menghadapi Sang Dewi butuh kondisi yang sehat betul. Aku akhirnya hanya diam dan pandanganku memudar. Dari belakang aku dengar suara teriakan seorang gadis tetapi bersamaan dengan itu, semuanya jadi gelap.

16.23
Aku terbangun dan kepalaku terasa nyeri. Kuraba keningku yang terasa panas. Aku bahkan tidak tahu akan sepanas ini jadinya. Tekanan darahku rendah dan kondisi yang tidak sehat membuatku demam. Yang lebih menyedihkan dari ini semua, aku sendirian di kamarku yang luas ini. Kenapa harus seperti ini? Pertanyaan menyebalkan itu terus berulang-ulang berputar di kepalaku.
Mataku terasa panas. Baru kali ini rasanya aku ingin marah-marah. Aku kesal dengan semuanya. Mencari sesuatu untuk menumpahkan segalanya, aku akhirnya mengambil tempat pensil dan melemparkan itu kencang-kencang. Aku berdiri dari tempat tidur walau kepalaku terasa sangat pusing tetapi kemarahanku lebih kuat dibanding rasa pusing ini. Aku ambil bantal dan aku lemparkan itu ke lantai. Aku ambil kotak riasku dan masih sama aku lempar itu. Segalanya yang ada aku lemparkan semuanya. Suara berisik mulai bersahutan.
Aku mulai menangis sejadi-jadinya. Aku sudah lama kesepian dan kenapa sekarang seorang teman saja aku tidak punya?! Aku berteriak dan mulai kehilangan akal. Mencoba mencari sesuatu untuk dilempar hingga kemudia pintu dibuka. Aku melihat sosok yang tidak pernah ku sangka. Jeremy.
Kembali emosiku mulai memuncak. Aku mengambil bantal dan melemparkan itu padanya. Aku lempar semua bantalku pada dia dan yang membuatku kesal, dia sigap menangkap itu semua. Aku kembali menangis dan akhirnya aku terduduk.
“Elo kenapa?”
“KELUAR!”
“Ra?”
“KELUAR! GUE BILANG KELUAR!”
Jeremy masih tidak pergi walaupun sudah tidak menjawabku.
“AKU BILANG KELUAR!!!! KELUAR!! NGERTI GAK SIH??”
“Gue...”
“Hik, keluaaaarr... Kenapa sih nggak mau ngerti?” suaraku mulai melemah. Aku nyaris nggak punya energi untuk berteriak lagi. Suaraku mulai tercampur dengan suara isakan.
Aku senang akhirnya, Jeremy keluar. Sempat ku lihat sebelum keluar, dia membawa plastik berisi buku-buku yang tidak aku tahu buku apa. Selanjutnya aku mulai menangis lagi. Kimmie, dia ikut menangis. Tidak pernah dia melihatku seperti ini. Dia berlari ke ujung kamar, singgasana kesayangannya lalu mengambil sehelai kain dan membawanya padaku. Setan kecil ini, batinku terharu. Makhluk mungil ini bahkan mengerti bagaimana cara untuk menghapus air mata.
Sekali lagi, aku dengar suara langkah. Aku ingat suara langkah itu. Suara yang ternyata aku rindukan dan aku butuhkan saat ini. Suara langkah Bi Nana. Ya, dia bahkan lebih mencintaiku dibandingkan mamaku sendiri. Aku baru sadar bahwa prolog dari ceritaku ini salah. Aku mungkin belum cukup bahagia. Tepatnya, aku belum tahu di mana letak kebahagiaanku. Bi Nana, wajahnya menatapku penuh kasih sekaligus iba. Berjalan pelan dan memelukku hangat. Aku rindu pelukan itu. Pelukan tulus yang tidak pernah kudapatkan dari mamaku sendiri. Mama kandungku, Clara Andrea. Bahkan mungkin, aku masih belum mengenal betul siapa dia.
“Non Tara... kok begini?” suaranya lembut, khawatir dan perhatian membuatku merasa sedikit tenang. Aku hanya tidak bisa menjawabnya dan hanya membalasnya dengan tangisan aku sendiri.
“Non, jangan seperti ini lagi ya?” Bi Nana ikut menangis membuatku merasa bersalah sejadi-jadinya. “Manusia pasti punya masalah. Bibi mungkin cuma pembantu tua tetapi Non bisa percaya sama Bibi. Bibi sayang sekali sama Non.” katanya lagi.
“Aku kesepian.” akhirnya jawaban tolol itu yang aku keluarkan. Nyaris tak terdengar. Bi Nana kembali memelukku lebih erat.
“Nggak akan pernah. Selama ada Bibi, semua nggak akan terasa sepi. Non Tara percaya kan?” katanya meyakinkanku.
Setelah lama, kemudian aku mengangguk. Kimmie, dia juga mulai mencium kakiku dan matanya menatapku seolah berkata,”Jangan sedih.”
Mungkin aku yang tolol. Kata siapa aku kesepian. Aku masih punya Kimmie dan Bi Nana. Mungkin mereka sudah cukup. Sekarang aku benar-benar merasa kelelahan. Bi Nana membantuku memapahku ke kasur kemudian membereskan kamarku yang nyaris seperti kapal pecah. Aku mulai tertidur. Selang beberapa menit kemudian, Bi Nana membangunkanku. Wajahnya mencurigakan lalu dia berkata padaku, “Sekarang Non istirahat di kamar. Ada apa-apa tinggal pencet bel aja. Non jangan turun! Kali ini aja Non nurut sama Bibi.” katanya kemudian dia meninggalkan kamarku. Aku terlalu lelah untuk berpikir dan kemudian aku melanjutkan tidurku.

Sabtu, 18 Februari 2012

Story About Chris


Setelah 2 minggu berlalu akhirnya aku mulai dapat berjalan dengan lancar. Walau terkadang masih terasa nyeri. Tetapi aku punya kabar baik. Berat badanku bertambah 2 kg. Aku senang bukan kepalang. Mungkin karena kerjaanku hanya tidur-tiduran di kasur dan kegiatanku sedikit jadi berat badanku bertambah.
Sore ini kakiku tidak bisa diam. Aku ingin sekali berjalan-jalan sebentar. Aku pandang lemari bajuku lalu mataku terpaku pada benda berwarna abu-abu. Topi Chris. Topi yang dipakaikannya padaku tanpa aku memintanya. Aku tidak mengenalnya tetapi aku merasa nyaman sekali.
Ah iya! Aku akan ke pantai saja untuk mengembalikan topi kusam ini padanya. Aku ambil papan skate kesayanganku bergambar cupcake warna warni (manis sekali bukan?) dengan dominasi pink paling dominan. Paling tidak kakiku tidak bergerak terlalu banyak di jalan jika aku memakai alat ini walaupun setelah sampai di pantai aku tetap harus berjalan kaki. Bayangkan, tidak mungkin aku mengendarai skateboardku di pantai berpasir, kan?
Hari ini cuaca cerah tetapi tidak panas. Aku menutupi kepalaku dengan kerudung dari baju hoodie hello kitty yang kukenakan. Matahari bahkan tidak sanggup membuat pahaku yang terbakar karena hanya menggunakan celana jeans pendek. Topi Chris tidak kupakai karena aku takut itu kotor lagi. Aku kemarin sempat mencucinya karena baru menyadari betapa topi itu dekil bukan main.
Sampai di pantai, aku menitipkan papan skateboardku ke tempat penitipan dan segera mencari Chris. Sesungguhnya aku tidak yakin apakah hari ini Chris ke pantai atau tidak. Aku hanya ingin sekedar mengembalikan topi kusam ini. Rasa-rasanya tidak enak kalau aku menyimpan barang milik orang lain terlalu lama.
Seperti biasa, aku membeli seplastik es kopyor untuk diminum sambil jalan-jalan.  Yah, minuman ini enak sekali diminum karena segar dan banyak gizinya. Sebenarnya gizinya tidak terlalu banyak sih! Hanya saja, di mulutku terasa enak sekali.
Setelah lama berjalan-jalan, akhirnya aku menemukan sosok yang aku cari. Rambutnya yang kemarin berwarna abu-abu hari ini di beberapa ujung2nya agak sedikit berwarna kebiruan. Dia memakai jaket kulit tak berlengan dan kaus dalam warna hitam bergambar tengkorak yang juga tanpa lengan sehingga memperlihatkan otot lengannya. Celana jeansnya masih seperti kemarin, kombor juga kusam dan bermodel sobek sana sini. Tindik di telinganya nyaris tidak kelihatan karena tertutup godek. Paradoks sekali, hanya sepatunya yang kelihatan mahal. Sepatu Supra Skytop NS model Zebra Grain.
Seperti biasa, penampilannya tetap menyita perhatianku. Aku suka sekali gayanya dan aku tidak dapat membohongi diriku sendiri. Apalagi sepatunya, sangat menyita perhatianku. Aku suka sekali sepatu itu. Hanya saja, harga yang melambung tinggi membuatku berpikir berkali-kali untuk membelinya. Lagipula mama akan mengomel jika aku membeli sepatu itu. Dia bilang wanita itu harus cantik dan sepatu itu tidak akan membuatnya cantik. Bosan sekali mendengarnya.
Lupakan soal sepatu itu, lebih baik aku segera menghampirinya. Saat mendekatinya aku baru menyadari di bagian bawah mata kanannya ada sedikit memar dan di bibir kirinya ada sedikit luka. Punggung tangan kanannya lecet dan lengannya yang berotot (uwaaw!) itu berwarna biru keungu-unguan. Ekspresi wajahnya mengerikan. Tenang tetapi seolah-olah bisa mengamuk tiba-tiba jika kau sentuh sedikit saja.
Aku memandang topinya sekarang, bingung. Harus kuapakan. Akhirnya kuputuskan untuk perlahan-lahan meletakkan topi itu di samping gitarnya, gitar yang nganggur dan tergeletak begitu saja. Nganggur? Tergeletak? Tiba-tiba saja tanganku terasa gatal (bukan! bukan gatal yang itu!) untuk memainkan gitar itu. Mungkin terlalu lancang tetapi aku tetap mengambil gitar itu perlahan. Aku tidak punya suara yang bagus jadi aku hanya memainkan gitar itu tanpa nyanyian. Aku sadar Chris merasakan keberadaanku sekarang.
Chris tampaknya mulai menyadari keberadaanku. Dia menoleh kepadaku tetapi aku tidak membalas melihatnya. Mataku justru menatap laut dengan tangan yang masih menggenjreng gitar. Benar, seharusnya aku bawa gitar ke sini. Kenapa justru pakai punya orang lalu memainkannya sesuka hati? Ah, biarlah. Kalau dia marah, aku tinggal pergi. Intinya, topinya sudah tidak kubawa lagi dan aku sudah ada maksud untuk mengembalikan topi itu.
“Kau tidak menyanyi?”
Ah, suara yang mengagetkanku, membuatku berhenti memainkan gitar.
“Permainan gitarmu bagus sekali. Aku jadi penasaran dengan suaramu.”
Dari dulu, aku paling takut, benci dan kesal dengan kalimat ini. Semua orang bilang begitu tetapi mereka tidak tahu apa yang terjadi.
“Aku lebih suka main gitar daripada bernyanyi.” jawabku sembarangan.
“Kau tidak percaya dengan suaramu?”
Aku mendengus. Jujur, aku kesal. Aku juga bingung jawaban apa yang harus kukatakan. Ini adalah salah satu kelemahanku. Aku benci mengakui kejelekanku yang satu ini. Bahkan dibanding Sang Dewi, aku masih jauh.
“Ah... tidak.”
“Tak apa-apa. Nyanyi saja.”
“Aku tidak mau.”
“Barangkali kau bisa menghiburku.”
Aiiih, aku tidak yakin kau akan terhibur. Yang ada, moodmu pasti akan semakin jelek. Tapi baiklah kalau dia ingin dengar. Biar dia tahu rasa. Aku memilih lagu I’m Yours-nya Jason Mraz, lagu yang sudah lancar kumainkan dengan gitar tetapi tidak pernah berhasil aku nyanyikan. Kimmie saja marah-marah mendengarku bernyanyi. Seharian dia badmood dan menggonggongiku seolah-olah aku musuhnya. Anjing saja bisa tahu orang mana yang bisa nyanyi dengan yang tidak bisa nyanyi!

                  Well you done done me and you bet I felt it
I tried to be chill but you’re so hot that I melted
I fell right through the cracks
And now I’m trying to get back
Before the cool done run out
I’ll be giving it my bestest
Nothing’s going to stop me but divine intervention
I reckon it’s again my turn to win some or learn some

But I won’t hesitate no more, no more
It cannot wait, I’m yours

“Bagaimana? Kau terhibur?” tanyaku dengan wajah merah padam. Aku menoleh dan wajah orang di sebelahku tak kalah hebat. Matanya membulat (baca : terbelalak) dan mulutnya nyaris terbuka. Nyaris seperti patung liberty (gak nyambung yah?).  Sungguh, ekspresi yang tak terbeli. Aku menghembuskan nafas, mencoba menahan rasa maluku.
Tiba-tiba saja cowok itu tertawa kencang. Wajahnya yang tadi diam mematung sekarang tergelak di atas pasir memegangi perutnya. Tertawanya sungguh lepas, bukan tertawa dibuat-buat. Hatiku terasa tidak karu-karuan. Kesal, malu, jengkel, bete dan hal-hal jelek lainnya mencampur jadi satu. Benar, seharusnya aku tidak bernyanyi. Seharusnya aku sadar diri. Seharusnya, aku mengetahui batasan kemampuanku serta seharusnya-seharusnya yang lain.
“Dunia ini adil ya?” katanya masih sambil tertawa.
Aku sudah memasang wajah bete tingkat akut lalu memutuskan untuk pergi. Ternyata dugaanku tadi salah. Aku kira aku akan pergi karena dia marah gitarnya dimainkan seenaknya. Alih-alih marah, justru aku yang pergi karena aku yang marah. Ketika aku berdiri, aku merasakan pergelangan tangku ditahan. Aku menoleh, mendapatkan wajah Chris sudah cerah sekarang. Dalam hati, aku sebenarnya lega.  Wajahnya sudah tidak mendung.
Chris menunjuk tempat kosong di sebelahnya dengan menggerakan kepalanya, dimaksudkan agar aku tidak pergi dan tetap duduk di sana. Aku mengurungkan niatku untuk pergi. Bukankah memang ini yang aku mau?
“Ya.” kata Chris tiba-tiba. Aku tidak mengerti dan hanya memasang wajah dengan arti tanda tanya.
“Kau tadi bertanya padaku, kan? Aku menjawab ‘ya’ karena aku merasa terhibur.”
Ah, ternyata pertanyaan itu. Aku tersenyum kecut tetapi aku senang dengan jawabannya. Walau suara yang aku keluarkan itu mengguncang perasaanku, tetapi aku senang bisa membuatnya terhibur. Aku memandangnya. Dia juga memandangku. Tersenyum. Tetapi aku tidak.
“Kamu... kenapa seperti ini?” tanyaku tiba-tiba.
“Ada sedikit hal kecil kemarin.”
“Hal kecil? Hal kecil apa yang bisa membuatmu seperti ini?”
“Kemarin ada beberapa orang yang mencegatku pulang. Jadi, ada sedikit perkelahian kecil.”
“Oh.” aku menjawab seadanya. Aku menoleh lagi, memastikan ekspresi apa yang aku dapat sekarang. Datar. Aku memandangnya sebentar lalu kembali menatap laut. Kami berdiam cukup lama menikmati desiran ombak untuk kesekian kalinya.
“Dulu waktu kecil, aku suka nyanyi. Apa pun aku jadikan mike. Awalnya, semua orang tertawa mendengar suaraku. Lama kelamaan, semakin aku besar semua orang mulai terganggu. Mulai dari yang kata-katanya pedas hingga ke perkataan yang lembut, namun semuanya mengandung arti yang sama.
“Di mulai dari perkataan yang lembut dari wali kelasku waktu aku kelas 1 SD. Dia bilang, “Tara kan, cantik juga pintar. Masih ada kemampuan lain. Kalau yang satu tidak bisa, harus coba yang lain. Jangan terpaku sama satu hobi saja.” Aku memang masih kecil waktu itu, tetapi aku tahu maksudnya. Aku anak yang sensitif. Tanpa dia harus mengatakan hal itu, aku tahu kalau dia merasa terganggu dengan suaraku karena dia menghentikan nyanyianku tiba-tiba dengan ekspresi terganggu. Aku tahu betul dan masih hafal ekspresi itu.
“Nggak hanya guru itu yang menunjukkan ekspresi seperti itu. Aku hampir tidak dapat menghitung berapa banyak orang yang sudah menunjukkan ekspresi terganggu tadi. Akhirnya aku benar-benar berhenti bernyanyi saat mama berkata pedas padaku. Waktu itu aku kelas 3 SD.
“Waktu itu pulang sekolah aku cemberut. Aku curhat sama mama kalau nilai menyanyiku jelek dan aku kecewa karena sudah latihan selama 3 minggu. Mama yang mendengar keluhanku mencoba menilai dengan meyuruhku menyanyi ulang. Kemudian aku nyanyi dengan percaya diri. Nggak kusangka kata-kata yang paling kutakutkan waktu itu kudengar langsung dari mamaku. Dia bilang,”Mama sudah yakin kalau kamu nggak punya kemampuan nyanyi. Mau latihan seberapa lama juga nggak bisa karena pada dasarnya suaramu jelek. Nggak heran kalau nilai kamu jelek. Tara, kamu itu pintar. Cari kemampuan yang lain! Dari pada kamu latihan nyanyi? Kan, malah nggak ada gunanya! Tenang aja, nggak cuma kamu kok di dunia ini yang punya suara sumbang.”
“Sekali lagi, aku memang masih kecil waktu itu. Tetapi aku mulai mengerti arti kata sumbang yang sesungguhnya. Awalnya cita-citaku sederhana, jadi penyanyi. Tetapi semenjak hari itu, cita-citaku berubah. Aku jadi nggak realistis dan terlalu bermimpi lebih. Semacam wujud kekecewaan karena hal kecil yang aku nggak bisa sama sekali. Itu kenapa, sampai sekarang aku nggak pernah suka nyanyi lagi.” aku menghentikan ceritaku. Cerita masa kecil yang menyedihkan dan menyakitkan.
Chris berdiri lalu kemudian dia duduk bersila di depanku yang sedang duduk memeluk kakiku sendiri. Sambil memandangku dia mengangkat dua tangannya.
“Kita punya dua tangan. Kiri sama kanan. Semuanya seolah-olah rupanya sama. Tetapi kemampuannya berbeda. Pada umumnya kemampuan ada pada tangan kanan. Karena aku kidal, kemampuanku di tangan kiri. Sama seperti kamu, semua orang punya kekurangan dan kelemahan.”
Aku tahu, dia berusaha menghiburku tetapi kata-kata seperti tadi tidak jauh beda dengan kata-kata wali kelasku ketika aku kelas 1 SD. Intinya suaraku jelek. Aku tahu itu.
“Tetapi aku tidak bilang suaramu jelek. Aku tidak seperti guru SD-mu itu.”
Aih, lagi-lagi dia bisa membaca pikiranku.
“Lagipula dibanding mendengar suaramu. Aku lebih suka melihat ekspresimu saat bernyanyi. Lebih jujur, asli, tidak dibuat-buat. Suci sekali.”
Aku tersenyum. Aku suka kata-katanya. Aku suka sekali cowok ini. Semuanya. Aku tidak tahu apakah dia mencoba menarik perhatianku atau tidak. Yang jelas, aku bohong jika aku bilang bahwa aku tidak menyukainya.
Chris, dia tersenyum padaku dan matanya terpaku pada topi kusam yang aku letakkan di sampingnya tadi. Dia mengambilnya dan keningnya berkerut.
“Kau mencucinya?”
Aku mengangguk.
“Kenapa?”
“Karena aku mau.”
“Jawaban apa itu?”
“Entahlah.”
Pembicaraan yang garing. Tetapi Chris tersenyum kemudian menyimpan topinya di kantung celana bagian paha lalu berdiri. Sambil berjalan mundur dengan mata yang masih memandangku, dia memberi isyarat untuk mengajakku pergi dari tempat itu. Kami berdua berjalan beriringan, menikmati tiap-tiap angin laut yang berhembus. Entah kenapa, dadaku terasa sesak. Mataku terasa panas. Kakiku pun berhenti berjalan.
“Chris...” kataku tiba-tiba.
Chris menoleh. Dia tidak menjawab panggilanku. Tampaknya dia tahu ada sesuatu yang terjadi padaku.
“Siapa kamu?”
“Maksudmu?”
Aku sendiri tidak tahu apa maksudku bertanya hal itu. Yang jelas, aku baru sadar jika aku tidak seharusnya begini. Tiba-tiba saja aku menerima seorang cowok dan bahkan aku sadar bahwa aku menyukainya.
“Ada sesuatu yang ganjil?”
Aku tidak menjawab. Aku bingung. Bingung dengan apa yang harus aku katakan dan bingung dengan perasaanku sendiri. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang berkecamuk dan membuatku khawatir. Semacam perasaan takut muncul dan herannya, aku baru merasakannya sekarang. Keringat yang jarang keluar dari tubuhku pun mulai mengalir melalui pelipisku. Mataku terasa semakin panas dan badanku gemetar. Mendadak muncul perasaan dingin.
“Tara?”
“Pergilah.” kataku dengan nada mengusir. Aku takut terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan. Tidak sembarangan mengusir tetapi aku punya maksud.
Chris memandangku sejenak kemudian mengeluarkan topi yang barusan kukembalikan. Ia mendekat satu langkah dan refleks badanku sedikit menjauh. Tetapi Chris tetap mendekat, memakaikan topi ke kepalaku untuk kedua kalinya. Sejenak mengelap keringat di pelipisku lalu memandangku sambil tersenyum tipis.
“Pakailah, aku tidak membutuhkannya. Selamat menenangkan diri.”
Kemudian, bayangan Chris pelan-pelan pergi. Aku tetap berdiri mematung. Rasa takutku hilang. Aku tidak mengerti. Apakah rasa takut itu berasal dari... Chris? Ah, aku sungguh tidak tahu.

Senin, 26 Desember 2011

SEMANGAT!!!


Hebat! Tubuh kurusku yang susah payah aku gemukan sepanjang tahun, dalam 2 minggu ini turun 3 kg dan aku merasa begitu sakit hati. Susah payah aku mencapai berat badan 45 tetapi kemarin masih saja 43, sekarang menjadi 40. Yah, sekali lagi karena aku kehilangan Aqua.
Untunglah, pipi ini masih cukup bulat dan gemuk sehingga membuat diriku masih terlihat sehat. Tetapi akhir-akhir ini aku merasa stamina menurun. Bukan, bukan karena aku sudah tua. Aku masih muda kok! Seharusnya aku masih kelas 2 SMP lo! Tetapi aku sudah bisa naik ke kelas 1 SMA. Bukankah tandanya aku masih begitu muda? Tentu!
Yah, aku sering melupakan makan malamku dan aku lupa minum susu supaya tinggi walaupun tetap segitu-segitu saja. Aku bahkan membiarkan snack-snack dan biskuit di kulkasku terlantar. Biskuit-biskuitku justru jadi cemilan Kimmie, anjing kesayanganku jenis Maltese. Walaupun Kimmie begitu mungil dan kecil (seperti pemiliknya) tetapi jatah makannya cukup banyak (seperti pemiliknya juga). Kimmie adalah anjing yang suka kebersihan. Dia hanya mau tidur di tempat yang bersih, memakai baju yang bersih dan tidak suka dengan tamu yang tidak bersih. Dia juga tipe anjing yang jual mahal dan sensitif. Sekali ngambek, susah sekali berbaikan dengannya. Dua kali dia ngambek padaku dan tidak mau sekamar hingga aku harus menyogoknya dengan biskuit dan baju baru. Heran, anjingku itu sungguh berkeprimanusiaan.
Kimmie, dia juga merindukan Aqua. Setiap ada yang membuka pintu kamarku, dia selalu menghampiri si tamu namun karena bukan Aqua, dia menggonggong. Mungkin dia kecewa. Sama Kimmie, aku juga merindukannya.
Pagi ini aku bersiap-siap berangkat ke sekolah. Hari ini adalah pengambilan rapor. Biasanya aku tidak ikut dalam pengambilan rapor tetapi karena tantangan Jeremy itulah, aku harus masuk dan bertemu dengannya.
Tiba-tiba saja pintu kamarku diketuk dan seorang pria berwajah Amerika Latin masuk ke kamarku. Dia ini Om Arrian, adik sepupu mamaku. Rumahnya tidak jauh dari rumahku. Dari SMP, selalu orang ini yang mengambilkan raporku. Terakhir mama mengambilkan raporku yang kuingat adalah waktu kelas 5 SD. Setelah itu Tante Zeva, adik kandung papa yang mengambilkan rapor kelas 6. Setelah itu semuanya yang mengambil adalah Om Arrian.
“Ready to go?”
“Om ah! Kayak mau ke mana aja... Sudah siap dong!”
“Oke! Let’s go!”
“Om, entar habis ambil rapornya Tara, Om langsung pergi kerja aja. Yang penting kan, sudah ada perwakilan murid yang ambil rapornya.”
“Lho? Kenapa emang? Malu ya, kalo ajak Om ke sekolah?”
“Nggak sih. Soalnya ada perlu habis ini.”
“Oh, Om pikir... Oke! No problem.”
Kami berdua sampai di sekolah. Kulihat beberapa murid, ehm banyak murid tepatnya berbisik-bisik sambil menatapku.
“It seems like you are the famous one here.”
“Ah, maybe.”
Aku hanya tersenyum kecut. Aku sendiri tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku hanya berjalan dengan dagu yang terangkat cukup tinggi. Dimaksudkan agar mereka tahu, aku tidak tertarik atau terpengaruh dengan bisik-bisikan mereka. Yah, bisa dibilang aku sudah memiliki sifat seorang selebriti atau pemimpin negara. Badak! Bebal! Tebal muka! Sebut saja yang artinya hampir mirip. Aku punya semua!
Setelah menunggu kira-kira 20 menit di luar kelas, akhirnya Om Arrian keluar dan memberikan raporku padaku tentunya setelah itu pamit padaku untuk pergi kerja terlebih dahulu. Masalah aku pulang? Tenang saja. Kan, sudah ada sopir.
Oke, aku mulai tersenyum sekarang. Nilai raporku sudah mencapai target. Tidak ada nilai 90 ke bawah. Tentu, bisa dipastikan rata-rata nilaiku di atas 90. Aku segera mengeluarkan ponselku  dan menghitung rata-rata dari nilaiku dan... SUKSES!!! Rata-rataku 97,8. Mustahil bukan? Aku saja heran!
Tiba-tiba saja aku merasakan ada hawa panas di dekat telinga kiriku. Oh Tuhan! Ternyata kepala Jeremy sudah ada di situ sejak aku menghitung nilai rata-rataku. Tetapi kekagetanku langsung hilang. Aku penasaran dengan nilainya. Siapa yang menang?
“Oke, gue akuin elo cewek paling pinter di sekolah ini.”
Aku menunggu kelanjutan dari kata-katanya. Jangan sampai aku terkecoh jika lanjutannya ternyata aku yang kalah padahal aku sudah senyum-senyum penuh kemenangan.
“Gue harus cari partner yang lain.”
Aku mulai tersenyum tetapi masih tertahan.
“Berapa rata-rata elo?”
“97 pas!”
Ih wow! Selisih sedikit sekali??? Hahaha. Aku bangga sekarang.
“Oke! Good luck!” Jawabku sambil kemudian menepuk bahunya sebentar lalu pergi meninggalkannya. Sekali lagi, dengan dagu yang terangkat tinggi. Jeremy, dia memandang kepergianku dengan wajah kecewa. Senang sekali rasanya. Jahat? Nggak kok! Itu sifat dasar manusia.
Ingin rasanya menghirup udara kemenangan ini saat sayup-sayup ku dengar segerombol anak kelas XI sedang membicarakan sesuatu. Awalnya aku cuek saja kalau saja mereka tidak menyebut namaku.
“Lagian jadi cewek juga songong banget sih?”
“Iya! Tapi bagus juga sih! Aku nggak perlu sakit hati kalo Jeremy deket sama cewek kayak gitu.”
“Tara ngerasa cantik kali ya jadinya bisa nolak tawaran kayak gitu?”
“Lagian Jeremy kenapa sih mesti milih dia? Kan ada aku yang cukup cantik! Namanya aja aneh! Tralala Chozy, apaan tuh?”
“Tapi, biarin aja si songong itu nolak. Aku lebih seneng gitu!”
Telingaku sebenarnya sudah biasa mendengar seperti ini. Dari dulu aku sudah tahu banyak tentang apa yang orang bicarakan padaku di luar. Tetapi hari ini aku benar-benar merasa kesal. Apa urusan mereka? Perlu cantikkah untuk bisa dekat dengan Jeremy? Ehm, mungkin iya tapi toh buktinya tanpa mendekatinya, dia yang mendekatiku. Yah, aku mengerti penderitaanmu bocah-bocah tak mampu! Tapi, dari mana mereka tahu berita itu? Bukankah tidak ada 10 menit berlalu setelah aku menolak tawarannya. Aku lalu tersenyum karena terlintas ide iseng yang muncul.
Aku kembali berjalan ke tempat di mana aku bertemu dengan Jeremy. Wow, Sang Dewi ada di sana dengan... Aqua. Sialan, rutukku dalam hati. Apakah Aqua sekarang anggota dari mereka? Ah, aku tidak tahu dan aku tak mau tahu. Aku tetap melangkah ke sana dengan berani. Aku lihat tampaknya Nerra sedang membujuk Jeremy untuk menjadi penggantiku. Aku menepuk bahu Jeremy dan dia menoleh. Juga Sang Dewi dan Aqua menoleh padaku.
“Kalo gue narik ucapan gue, terlambat nggak?”
Jeremy tampak terbelalak, begitu juga Sang Dewi dan... Aqua? Kenapa dia juga? Bukankah seharusnya dia tahu aku orang yagn cukup plin plan? Ah, lupakan! Masih terasa keheningan hingga aku yang akhirnya memecah keheningan tersebut.
“Kalo terlambat, sori deh! Good luck!” jawabku lalu berbalik. Aku tidak mau membiarkan Jeremy yang mengatakan hal itu karena itu akan mempermalukanku di depan Sang Dewi. Tapi, aku salah. Jeremy menarik tanganku membuatku sedikit terhuyung dan kembali berada di hadapannya. Tangannya meraba keningku. Sialan!
“Nggak! Gue nggak panas kok!”
“Oh... Yakin?”
Aku benci pertanyaan seperti ini. Aku tidak membalasnya. Hanya tersenyum sekilas lalu mengalihkan pandanganku ke arah lain.
“Ehm, oke! Nggak telat kok! Thanks banget, Tralala!”
Aih! Kenapa dia memanggilku seperti itu? Sang Dewi hanya tertawa mengejek tetapi dapat kulirik Nerra bahwa ia kecewa luar biasa. HAHAHAHA! Ingin rasanya aku yang tertawa kencang-kencang!
“Gue duluan deh! Ada janji sama temen di kantin. Sekali lagi thanks lo!” kata Jeremy lalu sempat menepuk kepalaku sebentar dan pergi meninggalkanku tanpa pamit pada Sang Dewi. Kenapa tiba-tiba aku senang begini. Dapat kurasakan wajahku sedang menahan tawa mati-matian.
Setelah memandang Sang Dewi sekilas tanpa memandang Aqua (bukan! Bukannya aku sombong tetapi aku tidak ingin melihat raut kebenciannya padaku. Aku tidak kuat melihatnya), aku langsung pergi meninggalkan mereka begitu saja. Tetapi kemudian, Sang Dewi mencegatku dan Aqua berada di sisi mereka tentunya.
“Pengkhianat lo! Elo bahkan nggak menyapa sahabat lo dari kelas... berapa? SD? Atau TK? Ckckck. Jahat banget!” ujar Jizie, salah satu dari empat anggota inti Sang Dewi.
Aku hanya mendengus dan memandang ke arah lain. Malas mengikuti mendengarkan suara kompor dari mulutnya. Yah, tingkah lakunya menurutku nggak lebih dari seorang anak SD. Dia mencoba mengadu domba kami dan tampaknya, Aqua sudah terpengaruh. Tetapi tidak dengan aku. Tentu, karena aku yang disalahkan dan secara tidak sadar, aku tentu mencari pembenaran atas diriku sendiri walau aku sendiri merasa bahwa aku salah.
“Oh, cuma bisa diem. Pengecut! Kayaknya dari luar elo tuh berani, tapi diginiin elo cuma bisa diem!” Kali ini Gea yang ikut berbicara.
“Terus, elo mau gue ngapain? Nyapa Aqua? Paling nanti elo bilang ‘itu sudah terlambat!’ dan memang pada awalnya, elo mau bikin gue nggak bisa bicara apa-apa! Iya kan?”
Mereka semua diam tetapi aku yakin ini semua tidak akan lama. Mulut mereka seperti meriam. Tidak mungkin diam dalam waktu yang lama.
“Kata siapa? Hah? Kita cuma pengen liat elo minta maaf sama Aqua.”
“Masalah gue sama Aqua, nggak perlu gue tunjukkin itu semua di depan kalian. Kalian mau merasa jadi superhero karena udah bikin gue minta maaf ke Aqua di depan kalian semua? Iya?”
Mereka diam lagi. Tetapi aku bisa melihat gerak-gerik Nerra. Dia mulai hendak main kasar.
“Kenapa, Nerra? Mau nampar? Apa hak lo? Oh, karena gue terima tawaran Jeremy? Iya? Elo kecewa?”
Nerra mengepalkan tangannya. Aku tidak peduli dia hendak menamparku atau tidak. Sungguh, aku malas berhadapan dengan anak-anak ini dan jujur aku kecewa pada Aqua. Kita tidak pernah melibatkan orang lain sebelumnya. Perlukah harus seperti ini? Aku mulai berjalan menjauhi mereka tetapi sebentar aku menoleh pada 5 anak di sana. Aqua memandangku tajam. Aku tidak peduli dan hanya kubalas dengan senyuman sinis lalu pergi.
Mungkin aku masih terlalu egois untuk meminta maaf pada Aqua tetapi aku yakin jika pada waktunya Aqua belum kembali, aku berjanji pada diriku sendiri untuk datang dan meminta maaf padanya. Permasalahan dia mau kembali padaku atau tidak, aku tidak yakin dia mau kembali padaku tetapi aku tidak peduli. Ada pertemuan dan ada perpisahan.
Aku segera menelepon Pak Adna, sopir pribadiku untuk menjemput pulang. Tidak diaktifkan. Ah iya, aku baru ingat hari ini mama memakainya untuk pergi ke sebuah butik temannya karena sopirnya sedang pulang kampung. Oke, tidak masalah aku pulang jalan kaki.
Mungkin enak juga minum-minuman dingin saat perasaanku terasa panas. Aku pergi ke kantin dan membeli segelas coklat dingin. Sekalian menambah berat badanku yang sulit ditambah.
“What’s wrong?” tanya sebuah suara familiar yang tampaknya baru saja kudengar. Ah, benar saja! Cowok ini lagi rupanya.
“Nggak apa-apa.” jawabku seadanya.
“Oh iya? Terus, mereka ngapain tadi di sana sama elo?”
Aih, ingin tahu sekali cowok ini!
“Bermusyawarah.” jawabku ngawur lalu pergi meninggalkannya karean coklat dinginku sudah jadi.
“Oh, maaf. Elo pulang sama siapa?”
“Sama kaki.” kenapa cowok ini banyak sekali tanya? Aku sedang malas berbicara dengan siapa pun.
“Mau gue anter?”
“No, thanks!”
Aku segera berbalik dan sedikit terkejut. Sudah ada 5 anak itu lagi. Aku tidak tahu apa yang hendak mereka perbuat padaku lagi. Cepat juga mereka berjalan! Tiba-tiba saja sudah di kantin. Aku hanya terus berjalan saja sampai satu kaki menyandungku dan Ah! Sial! Lututku terantuk ujung tangga persis! Oke, mereka boleh tertawa sekarang dan aku tidak ingin menatap wajah Aqua kali ini. Aku tidak peduli dia tertawa atau tidak. Yang sekarang kurasakan sesungguhnya hanya sakit hati. Itu saja. Sakit di kakiku tidak begitu kurasakan. Hanya membuatku sulit berdiri. Aku tidak peduli berapa banyak darah yang menetes. Ujung tangga itu cukup runcing dan mampu membuat kulitku sobek tetapi hatiku lebih terasa sobek.
Satu hal yang masih tidak normal dariku, aku sulit menangis. Kenapa harus begini??? Aku kan, manusia biasa dan apalagi aku ini seorang wanita! Menangis itu kan sifat dasar anak perempuan! Seharusnya aku menangis hingga membuat 5 anak ini merasa bersalah tetapi aku tidak bisa. Keinginan untuk menangis saja tidak ada. Aku benar-benar gila!!!
 Aku hanya mencoba berdiri. Sial, kenapa sulit sekali! Samar-samar kulihat sebuah tangan terjulur di depanku. Aqua? Wajahnya tidak memandangku. Apa-apaan ini. Bahkan melihatku saja ia tidak mau. Sebegitu hinanyakah aku?
“Kalau melihatku saja kau tidak bisa, kau juga tidak akan bisa menolongku.” jawabku tanpa menghiraukan tangan ini. Aku tidak peduli dia marah atau tidak. Aku hanya kecewa. Oke, aku tidak butuh belas kasihan.
Aqua menurunkan tangannya dan pergi meninggalkanku dengan nafas berat. Aku tahu dia marah.
“Gue yang bantuin elo.” kata Jeremy tiba-tiba sambil berjongkok di sampingku.
“Nggak. Gue nggak apa-apa.”
“Segitu elo bilang nggak apa-apa? Yang apa-apa gimana?”
“Gue nggak butuh belas kasihan.”
“Gue nggak kasihanin elo. Gue cuma mau bantu karena seharusnya.” kata Jeremy sedikit membentak. Yah, aku nggak tahu harus percaya padanya atau tidak tetapi mungkin aku memang butuh bantuan.
“Dan kalian! Puas kalian kayak gini???” ujar Jeremy kepada Sang Dewi. Aku cukup senang dalam hati. Biar tahu rasa mereka! Aku bisa lihat wajah Nerra pucat pasi. Tidak ada yang bersuara dan mereka kaget kakiku mengeluarkan banyak darah. Seketika tawa mereka berhenti begitu saja. Kalau tahu begitu, kupencet saja kakiku biar darahnya keluar semakin banyak dan mereka semakin merasa bersalah.
“Elo, pulang sama gue!” kata Jeremy tiba-tiba sambil menarik tubuhku dan meletakkan tanganku di tengkuknya. “Gue tahu elo nggak mau digendong.” katanya tiba-tiba membuatku menatap matanya sebentar. Di sana tampak sorot mata penuh emosi yang tidak dapat kubaca.
Kami mampir ke ruang UKS sebentar. Dokter di sana bilang kalau luka ini harus segera cepat-cepat dibawa ke rumah sakit untuk dijahit. Akhirnya setelah bujukan yang cukup lama, terpaksa Jeremy membopongku karena kalau dia memapahku akan membuang waktu yang lama dan membuat darahku mengalir terus menerus.
Aku malu. Semua orang melihatku digendong oleh seorang cowok yang tidak begitu kukenal. Padahal aku saja tidak ingat bagaimana papa menggendongku. Dari kecil, aku jarang digendong dengan laki-laki dan aku merasa risih sekali. Tubuhku gemetar tapi sebisa mungkin aku menyembunyikannya. Akan memalukan sekali kalau sampai Jeremy tahu ini.
“Itu terpaksa kok!”
“Heh?” aku terkejut. Wah, cowok ini bisa baca pikiran juga. Selagi berpikir demikian, aku memandangnya terus-terusan.
“Nggak. Gue nggak bisa baca pikiran. Dari tampang elo saja gue udah tahu elo ngerasa risih. Sampe gemeteran gitu. Gue jadi nggak enak nih!”
“Ah... nggak. Nggak apa-apa. Kan, terpaksa. Hehehe.” aku merasa cukup malu juga.
“Nih tissue. Keringet lo netes.”
“Hah? Ah, iya. Thanks.” Kenapa aku jadi tampak memalukan seperti ini? Aku kembali mengatur nafasku dan sekarang baru kurasakan betapa sakitnya luka ini.
Setelah di jahit, kakiku terasa lebih baik walau tetap perih tetapi paling tidak darahnya tidak mengalir lagi. Aku meminta Jeremy untuk duduk sebentar entah di mana dan akhirnya Jeremy memilih tempat duduk dekat penjual hamburger. Dia bahkan membelikanku sebuah karena mengingat ketika jatuh tadi coklat dinginku tumpah padahal tidak sempat kuminum.
“Untung ada gue di situ tadi.”
“Hm? Ah, iya. Thanks.”
“Jangan malu kalau butuh pertolongan. Kita manusia pasti butuh pertolongan satu sama lain. Kalau elo masih mikirin ego, kaki lo bisa bahaya.”
“Hoh? Iya. Hehe.”
Setelah menjawab sambil nyengir terpaksa, Jeremy memandang wajahku. Cukup lama sehingga aku merasa risih dan balas memandangnya.
“Kenapa?”
“Tingkah laku elo, persis banget sama temen kecil gue.”
“Oh ya? Jangan bilang gue temen kecil elo? Biasanya di novel gitu.”
“Nggak kok! Dia udah meninggal.”
“Oh.”
“Persis banget cueknya, jual mahalnya, gayanya, cara ngomongnya... Persis deh!”
“Yang mirip yang jelek-jelek ya?” kataku lalu melanjutkan makan hamburger.
“Justru itu yang bikin gue suka.”
“Ehm... Aneh ah!”
“Iya emang.”
“Nah loh?”
“Iya kok! Gue nyadar, agak aneh emang! Gue juga heran kenapa bisa suka sama dia. Mungkin itu yang bikin dia beda sama cewek lain.”
“Tadi katanya dia mirip gue, berarti nggak beda sama cewek lain.”
“Maksud gue, jarang ada orang kayak gitu.” jawab Jeremy sewot.
“Oh. Hehehe.”
“Tadi, kenapa elo berubah pikiran?”
“Hm? Oh... kenapa ya? Nambah-nambah kegiatan aja.”
“Elo cantik juga...”
“Oh ya? Heran, selera orang beda-beda ya?”
“Nggak kok! Tadi cuma buat ngetes. Elo bener-bener mirip sama temen gue.”
“Udah deh! Jangan sama-samain gue sama orang mati. Nggak enak tahu!”
“Sorry. Pulang yuk!”
Aku hanya mengangguk. Kali ini, Jeremy menggendongku sampai ke mobil walaupun aku sudah membeli kruk untukku berjalan karena dokter tadi bilang aku tidak boleh bergerak terlalu banyak. Ada tulang yang bergeser, maka dari itu aku harus membatasi ruang gerakku agar tulang itu kembali ke tempatnya semula.

♫ TUITT ♪ TUITT ♪ TUITT ♫

Sebuah pesan masuk! Aku segera melihat nama pengirim di layar ponselku. Aqua? Ada apa lagi dia?

From : Aqua

Kemarin aku, sekarang kamu sakitin papa?
Kamu maunya apa sih?

Apa lagi? Aku sendiri tidak tahu apa yang dia maksud? Aku menyakiti Om Ronald? Untuk apa? Aku sungguh-sungguh tidak mengerti dan aku merasa kesal terus-terusan disalahkan.
“Kenapa?”
“Nggak! Biasalah, sms dari operator. Ganggu aja!” jawabku, tentu saja bohong. Untuk apa dia tahu?
Setelah sampai rumah, aku hanya memanggil Bi Nana untuk membantuku masuk ke rumah. Aku tidak enak hati meminta tolong terus-terusan pada Jeremy mengingat aku masih belum begitu mengenalnya. Aku pastikan dia pulang terlebih dahulu baru aku masuk ke rumah.
Heran, siang-siang begini mama sudah pulang ke rumah. Seharusnya mama masih di butik milik temannya. Aku mendengar ada suara dentingan piring di ruang makan. Mungkin itu mama. Benar saja, mama sedang makan nasi yang lauknya menumpuk dan segelas bir dengan beberapa botol-botol bir yang sudah terbuka pertanda bahwa mama sudah minum bir lebih dari 1 gelas.
Wajahnya kacau dan tampak stres. Pasti ada masalah lagi, pikirku. Aku hendak membiarkan pergi sampai dia menyuruh Bi Nana mendudukanku di meja makan.
“Temenin mama makan ya?”
“Hah? Eh, iya ma.” jawabku sedikit gelagapan. Permintaan yang aneh. Mama jarang memintaku menemaninya makan. Sekedar info, kami tidak pernah makan bersama.
“Kaki kamu kenapa, Sayang?”
“Nggak apa-apa kok! Cuma agak luka aja. Mama lanjutin makannya deh! Tara temenin.”
“Mama putus sama Om Ronald.”
Oh, ternyata ini masalahnya. Dipikir-pikir memang cukup menyedihkan mama putus dengan Om Ronald karena mereka sudah nyambung sekitar 4 tahun. Pasti ada sesuatu yang tidak beres, pikirku. Tunggu, tadi Aqua mengirim pesan padaku tentang papanya? Apakah karena masalah ini? Ah, sudah! Aku pusing memikirkan ini semua.
Sesungguhnya aku kesal. Aku terkadang ingin dia membelaiku atau sekadar menanyakan kabarku. Paling tidak dia mencari tahu lebih lanjut mengapa kakiku bisa seperti ini tetapi dia justru membicarakan masalahnya sendiri.
“Udah, Ma. Nggak usah dipikirin. Besok ada show kan, di Bali? Mama mesti istirahat.”
“Mama nggak bisa! Gimana mungkin mama bisa pergi ke Bali dalam kondisi hancur seperti ini?”
Oh Tuhan, benarkah Clara Andrea yang selalu memiliki kemampuan luar biasa dalam hal fashion dan menjadi designer Internasional ternama ini adalah orang yang begini tidak profesianal? Benarkah dia ibuku? Kenapa aku merasa kondisi ini terbalik? Seharusnya, di masa-masa seperti ini aku yang curhat dan dia yang mendengarkan curhatanku.
“Bisa kok! Aku sering baca di majalah, Clara Andrea itu designer profesional. Dia tahu bagaimana menjalankan tugasnya nggak peduli apa yang terjadi dalam kehidupan rumah tangganya.”
“Kali ini mama bener-bener nggak enak badan! Mama nggak tahu harus gimana lagi.”
“Ya udah! Makan yang banyak biar cepet sembuh.”
“Kamu nggak ngerti, Sayang! Dengan makan aja itu nggak bisa nyembuhin luka hati mama!”
Oke, mama benar-benar mabuk sekarang. Bagaimana mungkin cara berbicaranya jadi seperti ini? Sok-sok ABG?
“Terserah deh! Aku capek, Ma! Seharusnya aku yang curhat kayak gini dan mama yang ngasih solusi! Bukan mama yang curhat dan aku yang kasih solusi? Siapa sih yang ngajarin aku supaya profesional?”
Aku kesal sekali hari ini. Kenapa semua orang jadi menyebalkan? Aku meninggalkan ruang makan dan sesekali menoleh ke arah mama. Benar, dia mabuk. Wajahnya merah dan tampak lemas di kursi meja makan. Biarkan saja! Paling Bi Nana akan membawanya ke kamar. Aku terlalu lelah menghadapi ini semua. Aku hanya ingin refreshing dan bersantai bersama Kimmie. Tetapi segala macam masalah datang bertubi-tubi. Aku hanya butuh satu kata. SEMANGAT!

Who will be the loser?


Akhir-akhir ini aku tidak mengunjungi kediaman Aqua. Mama sampai mengira kami bertengkar dan mungkin memang secara tidak langsung kami sedang bertengkar. Yah, entahlah. Tiba-tiba saja hubungan kami merenggang. Di kelas, kami masih satu meja tetapi kami sudah jarang berbicara banyak. Hanya berbicara seperlunya dan bahkan sekarang aku sudah tidak pulang bersama lagi. Aku memilih diantar dan dijemput sopir daripada bersama dia.
Aku sendiri tidak marah dengan Aqua. Aku hanya tidak tahu harus berbuat apa dan membiarkan kami dalam keadaan masing-masing menurutku lebih baik. Aku jarang memulai pembicaraan terlebih dahulu atau memikirkan ide-ide gila terlebih dahulu. Seperti yang pernah aku bilang, aku tidak cukup seru untuk dijadikan sahabat atau dijadikan teman seru-seruan dan aku masih tidak tahu mengapa bisa begini.
Mulai aku sadari bahwa tampaknya Aqua memang sedang marah padaku. Semakin hari pandangannya terhadapku semakin tidak enak saja. Aku sadar itu tetapi wajahku memang tidak dapat menampakan ekspresi khawatir atau apa pun. Aku tetap fokus pada apa yang ku lihat. Sejujurnya aku khawatir dan merasa tidak enak hati, tetapi aku hanya tidak ingin orang lain tahu hal ini. Perlukah mempublikasikan masalah sepele yang terjadi secara pribadi dan akibatnya menyebabkan hubungan yang kurang baik? Jawabanku tidak.
Aku punya banyak teman karena aku akui (mungkin terkesan sangat sombong tetapi banyak yang bilang begitu) wawasanku luas dan aku bisa nyambung berbicara dalam hal apa saja. Hanya seperti yang aku bilang tadi, aku terlalu jaim untuk mengekspresikan itu tindakan-tindakan seru atau gila hanya untuk sekadar have fun. Aku hanya melakukannya karena memang seharusnya.
Aku tahu suatu hari, hal seperti ini akan terjadi. Dari dulu aku sudah bersiap diri jika Aqua akan menjauhiku karena menyadari betapa membosankannya aku. Aku terlalu tidak norak. Kedengaran aneh? Yah, aku memang aneh. Paling tidak menurutku, sifat dasar anak perempuan adalah norak tetapi aku sama sekali tidak punya itu. Normalkah? Aku tidak tahu.
Aku bahkan tidak tahu apa itu jatuh cinta? Aku hanya pernah menyukai atau mengagumi seorang cowok. Tetapi untuk berdebar atau berniat ingin menyatakan perasaan cinta, aku tidak pernah berpikir sampai situ. Sempat aku berpikir mungkin ini sifat turunan tetapi tidak. Mama adalah wanita yang agresif, tidak seperti aku.
Sesungguhnya, mamaku bukan tipe wanita yang cukup baik. Beliau designer terkenal dan memiliki relasi yang begitu banyak. Tidak jarang beliau sering pergi berdua dengan lelaki tak kukenal bahkan pernah ketika aku mengikutinya secara diam-diam, mereka masuk ke dalam hotel atau tempat clubbing. Entah apa yang mereka lakukan dan aku tahu itu bukanlah sesuatu yang baik. Tetapi aku tidak berani keluar dari tempatku. Aku tahu bahwa posisiku bukan siapa-siapa. Aku tidak pernah menceritakan ini pada siapa pun. Walau aku cukup bahagia, tetapi jujur aku pernah merasa terluka. Aku merasa mama mengkhianati papa.
Namun sejauh ini, mama masih menjaga hubungan denganku. Mungkin ini sudah cukup. Meresponku sudah lebih dari merawat apa yang papa berikan padanya. Hubungan dengan mama cukup baik walaupun kami kurang terbuka satu sama lain. Kami saling mengerti keadaan masing-masing. Sungguh, itu sudah cukup bagiku. Aku merasa cukup bahagia dengan itu. Oke, bohong kalau aku bilang aku tidak pernah menginginkannya hanya ada untukku. Tetapi hal itu cukup mustahil. Dia tidak punya cukup waktu untuk itu.
Bagiku, Aqua adalah saudara perempuanku yang mampu menggantikan posisi mama. Aku cukup kesepian di rumah karena itu kuhabiskan waktuku untuk membaca buku dan melakukan kegiatan sekolah yang dapat mengusir rasa bosanku tanpa orang tua di rumah. Mungkin jika aku tidak memiliki Aqua, aku akan tumbuh menjadi anak yang terlalu kaku.
Maka dari itu, sesungguhnya aku merasa kehilangan. Mulai kusadari pandangannya sinisnya sejak kemarin. Pandangan sinisnya membuatku tak memandanganya terlalu lama. Aku mengalihkan pandanganku terlebih dahulu. Sebisa mungkin wajahku aku buat seolah-olah tak terjadi apa-apa. Dia mendengus berkali-kali saat duduk denganku.
Pagi ini tiba-tiba saja Farriz sudah terduduk manis di sampingku. Dia tersenyum lalu menaruh tasnya di sampingku. Ah, iya sudah tentu begitu. Aqua mulai muak duduk di sampingku. Aku hanya membiarkannya begitu saja karena aku masih tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
Hari-hari terakhir ini begitu membuatku merasa sendiri. Untuk membuatku lupa tentang kesedihanku terhadap Aqua, aku menyibukkan diriku dengan memadatkan kegiatanku. Aku mengerjakan semua tugas sekolahku sampai selesai sebisa mungkin. Aku menghabiskan waktu di ruang belajar dan ruang musik. Menyibukkan diri dan menyiksa diri aku rasa artinya tidak jauh berbeda bagiku.
Farriz ternyata cukup seru. Selama aku istirahat, aku tetap di kelas dan tiba-tiba saja dia mengajakku ke perpustakaan. Dia anak laki-laki yang cukup pintar. Wajahnya ramah dan baik. Tipe anak cowok yang kurang lincah karena terlalu sering menghabiskan waktunya dengan kumpulan buku-buku. Paling tidak aku masih lebih lincah dibandingkan dia.
Tentu! Ketika aku SMP, aku hampir mencoba segala macam bidang olahraga seperti bulutangkis, basket, berenang, tennis, lompat tali dan olahraga lain. Namun yang paling ditekuni adalah bulutangkis, berenang dan lompat tali. Itu karena aku ingin sekali tinggi. Ingiiiiiiiiin sekali! Tetapi tidak bisa tinggi-tinggi. Ada keuntungan dari mencoba berbagai macam olahraga. Badanku jadi cukup sehat dan stamina cukup kuat walaupun tubuh mungil dan pertumbuhan ngadat.
Tidak seperti Farriz. Dia kurang lincah dan orangnya terlalu kaku. Namun wawasannya luas dan cara berbicaranya dewasa sekali. Aku suka sekali berdiskusi dan kami cukup klop karena bisa saling melengkapi dalam memberi berbagai macam informasi. Yah, paling tidak selama Aqua menjauhiku dan mendekati Sang Dewi, Farriz bisa menjadi penggantiku... sementara. Masih belum ada yang dapat menggantikan posisi Aqua sejauh ini.
Lupakan masalah Aqua. Minggu depan adalah minggu penuh ujian. Aku sudah mempersiapkannya kemarin. Aku baca-baca ulang materi yang pernah diajarkan dan aku berlatih semua walau sejauh ini aku hampir mengerti seluruh isi materi secara menyeluruh. Aku lakukan ini bukan karena aku takut posisi rankingku bergeser tetapi aku lakukan ini sesuai tantangan Jeremy.
Sesungguhnya aku kalah atau menang tidak masalah. Tetapi paling tidak, aku dapat mengangkat daguku tinggi-tinggi di depan Sang Dewi jika aku menang. Yah, sebenarnya aku sudah berkali-kali melakukan ini dimulai sejak SMP. Dulu belum ada nama Sang Dewi. Yang ada adalah geng ‘The Girls’ yang anggotanya ada 8 anak perempuan sok jago. Delapan anak itu sudah membuat geng itu semenjak kelas 6 SD lalu lanjut sampai SMP (konyol banget kan???). Semenjak SMA mereka mulai menggantinya dengan Sang Dewi (malah bagus nama buatan SD) dan anggotanya berkurang karena pindah sekolah.
Kumpulan anak itu tidak suka dengan aku dari dulu tetapi dari dulu aku anak yang cuek. Aku biarkan mereka karena kukira mereka akan bosan. Ternyata dugaanku salah. Hingga bertahun-tahun mereka tidak berubah dan itu sungguh kekanak-kanakan. Sudahlah, toh tinggal 2 tahunan lagi. Aku hanya perlu bersabar saja.
Seharusnya kesabaranku sudah di puncak karena dengan sukses, cewek-cewek childish itu bisa merebut sahabatku dengan mudah. Yang paling bodoh adalah yang direbut hanya diam saja dan masih tak dapat berbuat apa-apa. Aku sendiri tidak tahu apakah aku kerbau atau apa yang hanya bisa diam saja walaupun sahabat baiknya telah direbut?
Aku mulai menyadari, mungkin bukan Aqua yang menyebalkan tetapi aku. Itu kenapa dia menjauhiku. Bahkan terakhir saat kami masih dekat, aku yang meninggalkannya begitu saja karena aku kesal. Tunggu dulu, bukankah tadi topik tentang Aqua sudah lewat? Kenapa balik lagi?
Jadi intinya, ini adalah minggu-minggu yang membosankan di mana aku harus menghadapi tantangan Jeremy seorang diri tanpa ada bantuan Aqua. Bukankah aku sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri? Berarti kali ini aku harus bisa memenangkan tantangan ini! Who will be the loser? We’ll see!

Jumat, 16 Desember 2011

Who ??

Sungguh, Aqua benar-benar melupakanku kali ini. Ini pertama kali dalam seumur hidup dia membuatku kesal setengah mati. Merasa bersalah saja tampaknya tidak. Sejak kapan dia jadi begini? Tentu, sejak dia mengenal Sang Dewi. Mendengar kata Sang Dewi, benar-benar membuat telingaku mendidih kepanasan.
Aku, sendirian. Sesungguhnya sudah biasa. Tetapi entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa kesepian. Semenjak mengenal Jeremy, aku merasa butuh seseorang. Seseorang sebagai rumahku. Firasatku merasakan bahwa Jeremy akan sedikit membuat hidupmu sedikit berguncang. Entah apa maksudnya tetapi aku merasakan itu.
Sekarang, jam 4 sore. Waktu yang enak untuk berjalan kaki sebentar ke luar rumah. Aku memakai kaos oblong berwarna pink cerah dan celana monyet sepaha dengan sepatu sneakers dari bahan jeans warna hitam dan rambutku diikat satu seperti biasa. Mungkin ada enaknya berjalan di pinggir pantai berhubung kompleks rumahku dekat dengan pantai.
Sambil berjalan, memandangi pemandangan yang natural mengusir kekesalanku pada Aqua. Yah, aku suka melihat pemandangan nyata seperti tukang bakmie yang dagangannya dikerubungi banyak pembeli, anak-anak kecil yang berlari-lari bermain pesawat-pesawatan, bapak-bapak pengangguran yang terduduk di pinggir jalan dan lain-lain. Entahlah, aku tidak tahu mengapa aku menyukai hal-hal yang seperti itu. Seperti melihat kenyataan tanpa rekayasa yang ada di dunia yang penuh kebohongan.
Untuk sampai ke pantai ada kira-kira waktu 15 menit dan aku sungguh-sungguh menikmatinya. Sesampainya di pantai, aku membeli segelas es kopyor kesukaanku dan kembali berjalan-jalan di pinggir pantai. Mataku berhenti menatap seorang laki-laki sedang memegang gitar namun tidak meng-genjreng-nya. Who ?? Jaketnya berwarna hijau lumut yang kusam, celana jeans kombor, kaus oblong bergaris, rambut di cat warna abu-abu dengan kalung menumpuk dan gelang-gelang di tangan dengan bentuk yang berbeda-beda menutupi pergelangan tangannya. Wajahnya tidak tampan dan cenderung nakal, tetapi aku suka melihatnya. Wajahnya menyiratkan kebebasan tetapi aku menangkap sesuatu yang menyedihkan di matanya. Aku tak tahu apa itu. Yah, aku memandangnya cukup lama hingga dia menyadarinya.
Cowok itu menoleh memandangku. Aku balas memandangnya. Kami berpandangan cukup lama. Akhirnya, aku yang melemparkan pandanganku ke tempat lain dan menyeruput es kopyorku lagi. Cowok itu berdiri, menghampiriku dan berhenti di depanku. Ups, kenapa jadi tidak enak begini perasaanku? Aku mundur selangkah. Sial, dia maju lagi. Aku mundur lagi selangkah dan dia masih maju. Akhirnya aku memandang wajahnya. Dia menunduk (kenapa sih harus nunduk? Segitu pendeknya kah aku?) dan kepalanya miring ke kanan lalu ke kiri, mengamati seluruh raut wajahku.
“Aku mengenalmu?” tanyanya.
“Kurasa tidak.” jawabku seadanya.
“Benarkah?”
Aku hanya mengangguk.
Cowok itu menegakkan tubuhnya lagi lalu duduk di tempat tadi ketika aku memandangnya. Aku masih memandang cowok itu. Dia terduduk menatap laut. Matanya kosong dan wajahnya tidak dapat diartikan. Aku suka cowok ini, itu yang terlintas di otakku. Tiba-tiba dia menepuk tempat duduk di sampingnya, menyuruhku duduk di sana. Aku hanya menurut saja.
Diam. Diam. Diam.
Satu di antara kami tak ada yang bersuara. Kami berdua menikmati suara ombak, suara orang-orang di sekitar pantai dan menikmati hembusan angin laut. Kami seperti kerikil, tak berguna dan diabaikan. Tetapi aku menikmati tiap-tiap detiknya. Jantungku terasa bekerja dengan mulus dan nafasku lega.
Cukup lama kami saling diam dan pada umumnya jika orang-orang menempati posisi kami, mereka akan mengantuk. Tetapi tidak untuk kami.
Lepaskan bebanmu, hapus rasa kelabu ♪
Biarkan mereka yangmeninggalkan ♫
Kembali datang padamu ♪

Yang kau butuhkan hanya waktu ♫
Yang kau butuhkan hanya menunggu ♪
Hari yang jenuh ♫
Akan kau lewati ♪

Cowok itu tiba-tiba bernyanyi. Lagu yang tidak terkenal tetapi musiknya menenangkan. Suaranya lembut seperti penyanyi jazz tetapi penampilannya sama sekali tidak mendukung. Penampilannya lebih cocok menggambarkannya sebagai penyanyi rock. Liar, nakal, dan... entahlah.
“Biarkan saja mereka yang mau meninggalkanmu. Kalau memang mereka dilahirkan untuk hidup bersamamu, mereka akan kembali padamu.” katanya tiba-tiba. Entah pada siapa dia berbicara. Matanya tidak memandangku sama sekali.
“Persis seperti keadaanku sekarang.” kataku. Kali ini dia memandangku dan kemudian aku yang memandangnya (entah kenapa dari tadi pandang-pandangan terus) lalu dia tersenyum. Senyum itu nakal seperti iblis tetapi juga misterius. Wajahnya benar-benar playboy kelas atas dan caranya mengerling benar-benar memikat. Aku yakin, tanpa perlu mempertampan dirinya sendiri pasti ada cewek yang dapat dengan mudah dicuri hatinya.
“Chris.” katanya. Misterius sekali! Hanya mengucapkan nama saja dalam memperkenalkan diri. Ah, bukan misterius tetapi pelit bicara.
“Tra... ehm Tara.” jawabku nyaris menyebutkan nama panjangku yang tidak masuk akal.
“Tralala Chozy maksudmu?”
Hueh? Dari mana dia tahu itu? Cowok ini masih belum memandangku dan pandangannya masih lurus ke depan. Aku hanya mengangguk entah dia melihat atau tidak.
“Bukan nama yang jelek dan nggak perlu disesali. Mungkin saat ini tidak ada artinya, tetapi nanti... kamu yang akan cari arti nama itu.”
Sudah hampir jam 5 sore tetapi matahari entah mengapa justru terasa panas. Chris berdiri sebentar lalu berjalan ke hadapanku, kemudian berjongkok menyetarakan wajahku dengan wajahnya agar kami dapat langsung bertatap muka. Aku balas memandangnya karena aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan selain memandangnya. Kemudian Chris tersenyum playboy dan memakai topi entah dari mana ke kepalaku lalu berdiri membawa gitarnya dan pergi.
Kali ini aku tidak melihatnya pergi. Aku masih terus menatap ombak-ombak laut yang menderu. Menunduk kemudian. Mungkin dia benar, kenapa dari dulu sampai sekarang aku harus malu dengan nama itu dan menjadikannya beban yang begitu berat. Oke, yang kusesali hanyalah karena nama itu tak mengandung arti dan terkesan slengek’an.
Aku berdiri masih dengan topi di kepalaku yang belum kusentuh sedikit pun. Tiba-tiba saja langkahku terasa ringan. Sejenak aku lupa kalau aku sedang kesal dengan Aqua. Aku berjalan pulang, masih dengan pikiranku sebelumnya. Berjalan tanpa menoleh kemana pun. Tidak menyadari sepasang mata yang masih memandangku.