Rabu, 11 April 2012

My Best Friend or My Enemy



Mataku tiba-tiba saja terbuka. Ini bukan pagi yang mengenakan. Kepalaku pusing dan tubuhku lemas namun hasratku yang memaksa bangun dari ranjang. Tanpa perlu melihat jam, aku tahu aku terlambat. Aku tipe yang jarang terlambat berangkat sekolah dan jika sampai terlambat, itu tandanya ada sesuatu mengganjal pikiranku. Memang, semalaman aku memikirkan seseorang. Chris tentunya.
Aku sendiri tidak tahu sejak kapan aku mulai membuka diriku untuk orang lain selain Aqua selama ini. Trauma yang aku tidak pernah tahu sebabnya, membuatku takut untuk terbuka dengan orang lain walaupun aku masih bisa bergaul dengan yang lain. Aku takut untuk mencampuri urusan di luar kendali diriku sendiri terlalu jauh. Aku memiliki dinding tersendiri dalam membatasi pergaulanku dengan orang lain.
Perasaanku tidak enak pagi ini dimulai sejak membuka mata hingga sekarang aku melangkahkan kaki. Semacam perasaan khawatir, sedih dan gelisah. Aku berani yakin dan bersumpah pada perasaanku bahwa akan ada sesuatu yang terjadi. Aku yakin benar. Seringkali naluriku tidak salah.
Perlahan ketika berdiri di depan gerbang sekolah, aku rasakan suasana hangat yang tidak nyaman di tubuhku. Aku sadar langkah kakiku tidaklah ringan. Dari luar, mungkin ekspresiku datar. Tetapi selagi aku masih seorang manusia, perasaanku takut bukan main. Bisa kurasakan badanku gemetar. Baik, aku tampak berlebihan dalam mengekspresikan perasaanku sekarang tapi sungguh itulah yang aku rasakan.
Voila! Benar saja, di depan kelas Aqua menungguku. Wajahnya masam. Tidak, itu bukan ekspresi masam. Itu wajah seekor harimau ingin menerkam seekor rusa naif yang tak berdaya. Anggap saja rusa itu aku. Aku memang tidak tahu harus berbuat apa ketika melihat Aqua. Aku hanya berdiri menatapnya. Dalam diam. Aku cuma mencoba berjalan seperti biasa ke arah kelas dengan jantung yang bertabuh begitu keras.
“Siapa kamu?” tanyanya seperti biasa. Seperti orang yang sedang bercanda. Tidak, bukan! Seperti pertanyaan tuduhan.
Keringatku menetes. Jantungku tersentak. Aku kaget tetapi masih dengan ekspresi yang sama, wajahku tidak terlihat terkejut. Hanya mataku saja yang berkedip.
“Aku tanya, Siapa kamu?? SIAPA!!!??? Nyapa nggak! Minta maaf nggak!! TERUS SIAPA?? Kamu anggep aku apa selama ini?”
Aqua mulai berteriak di depanku. Semua orang mulai memusatkan perhatiannya pada kami berdua. Bisa aku lihat bahwa ekspresi Sang Dewi menatapku dengan tatapan menyalahkan. Aku tahu itu.
“Kalo gitu, kasih tahu aku salah apa.” Cuma itu yang bisa kukatakan dan respon Aqua sungguh sesuai dengan apa yang aku prediksi. Dia melengos.
“Aku kasih tahu kamu? Kamu minta itu? Sampai kapan kamu punya inisiatif sendiri? Oke, aku sendiri sebenernya nggak merasa ada suatu masalah besar di antara kita. Masalah itu cuma ada di kamu! Respon kamu! Kepedulian kamu ke aku! Ada nggak sih?”
Aku kembali diam. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Lagi.
“Selama ini aku coba tolerir semua kekurangan kamu. Kamu mungkin nggak suka shopping kayak anak cewek lainnya, aku terima. Paling nggak rayain ulang tahun kecil-kecilan, tapi aku masih maklum. Kamu bahkan nggak pernah hibur aku ketika lagi sedih, tapi aku maklum. Mungkin memang kamu nggak bisa dan ternyata... sampai selamanya pun kamu nggak bisa. Karena apa? Kamu nggak  mau ngerespon aku! Gini aja, mungkin kita nggak cocok. Anggap kita temen biasa. Impas!” setelah mengatakan itu Aqua pergi. Meninggalkanku bersama orang-orang lain yang sok mengerti masalah kami dan memandangku sama dengan cara Sang Dewi memandangku.
Kepalaku kembali terasa berdenyut dan badanku semakin merasa lemas tetapi hatiku terasa lebih longgar. Sesuatu baru saja terjadi. Paling tidak aku sudah tidak dihantui rasa penasaran. Aku segera saja masuk ke kelas. Peduli apa dengan pandangan orang lain? Aku bisa hidup tanpa mereka. Sekarang yang aku pikirkan hanyalah bagaimana cara menghilangkan rasa pusing saat ini.
Pelajaran pagi ini pun sama sekali tidak masuk ke otakku. Berkali-kali pandanganku buram. Mungkin saja aku terlalu kelelahan karena hanya sempat tidur selama 3 jam. Hidungku terasa mengeluarkan lendir. Tidak ini lebih cair. Mulai kurasakan itu menetes hingga ke buku lalu mejaku.
“Tara, kamu mimisan?” Farriz memandangku terkejut.
Darah? Aku cepat-cepat meletakkan tanganku untuk menutupi lubang hidungku dan mendongakkan kepalaku ke atas. Aku tidak tahu begini jadinya. Dalam keadaan seperti ini, aku merasa tidak mampu menatap Aqua, seseorang yang biasa kupandang saat aku merasa ada masalah datang menghampiriku. Tetapi kali ini, aku memilih menjadi pengecut untuk tidak menjatuhkan pandanganku padanya. Aku terlalu takut melihat mata yang terluka karena aku.
“Mau aku kasih tahu guru?” tanya Farriz lembut.
“Eh, nggak usah!” jawabku cepat. Aku hanya tidak ingin orang-orang tahu dan memang inilah kebiasaanku.
“Tapi kamu nggak mungkin angkat kepalamu terus-terusan.”
“Tenang aja, aku nggak apa-apa. Darahnya cuma keluar sedikit.” jawabku asal.
Farriz, dia mengerutkan keningnya dan aku tidak mau menatapnya terlalu lama. Dia akan tahu aku bohong. Tetapi dia tidak banyak berkutik dan akhirnya tetap fokus pada pelajaran. Tidak seperti aku. Aku tidak bisa fokus hari ini. Kepalaku pusing dengan apa yang terjadi hari ini. Yap, mungkin aku belum siap dan terlalu pengecut menghadapi ini semua.
Aku mulai menegakkan kepalaku lagi. Aku tidak bisa begini terus. Teman-teman akan curiga. Akhirnya aku menutupi hidung dan mulutku. Berjaga-jaga tidak ada yang tahu aku mimisan. Jika ada yang tanya, jawab saja kalau ingusku keluar.
Tidak kusadari, Farriz menyingkirkan tanganku dan meletakkan sapu tangannya di hidungku.
“Itu lebih baik daripada kau menutupnya dengan tanganmu.” kata Farriz kemudian tersenyum. Ada kalanya dia bisa jadi pahlawan, batinku dalam hati.
Ketika bel berbunyi, aku berniat pergi ke WC untuk membersihkan hidungku yang terasa lengket karena darah hingga sapu tangan Farriz pun hampir berubah warna karena sudah tidak mampu menyerap darahku. Mungkin aku saja yang tidak mamu mendongakkan kepala sehingga darah tersebut terus mengalir.
Sedari tadi, kepalaku masih saja terasa berdenyut. Aku berjalan perlahan khawatir badanku akan ambruk. Air kran sedikit menyegarkan wajahku yang terasa panas. Ku lihat bayanganku di kaca. Seorang gadis kurus dengan wajah pucat yang mengerikan. Aku hampir tidak ada bedanya dengan hantu sekolah. Mengerikan.
Tiba-tiba terdengar suara pintu WC terbuka dan dari sana 4 cewek cantik (nggak panas ya?) keluar berurutan menatapku. Iya, siapa lagi kalau bukan Sang Dewi? Mereka senang dengan keadaanku yang mengerikan ini dan aku malas sekali menghadapi mereka hari ini. Tubuhku terasa berat untuk digerakkan. Aku mencoba untuk keluar dari WC. Dari situ Jizie menghadang. Ini pertama kalinya aku merasa takut dengan Sang Dewi. Aku sadar kondisiku sedang lemah dan menghadapi Sang Dewi butuh kondisi yang sehat betul. Aku akhirnya hanya diam dan pandanganku memudar. Dari belakang aku dengar suara teriakan seorang gadis tetapi bersamaan dengan itu, semuanya jadi gelap.

16.23
Aku terbangun dan kepalaku terasa nyeri. Kuraba keningku yang terasa panas. Aku bahkan tidak tahu akan sepanas ini jadinya. Tekanan darahku rendah dan kondisi yang tidak sehat membuatku demam. Yang lebih menyedihkan dari ini semua, aku sendirian di kamarku yang luas ini. Kenapa harus seperti ini? Pertanyaan menyebalkan itu terus berulang-ulang berputar di kepalaku.
Mataku terasa panas. Baru kali ini rasanya aku ingin marah-marah. Aku kesal dengan semuanya. Mencari sesuatu untuk menumpahkan segalanya, aku akhirnya mengambil tempat pensil dan melemparkan itu kencang-kencang. Aku berdiri dari tempat tidur walau kepalaku terasa sangat pusing tetapi kemarahanku lebih kuat dibanding rasa pusing ini. Aku ambil bantal dan aku lemparkan itu ke lantai. Aku ambil kotak riasku dan masih sama aku lempar itu. Segalanya yang ada aku lemparkan semuanya. Suara berisik mulai bersahutan.
Aku mulai menangis sejadi-jadinya. Aku sudah lama kesepian dan kenapa sekarang seorang teman saja aku tidak punya?! Aku berteriak dan mulai kehilangan akal. Mencoba mencari sesuatu untuk dilempar hingga kemudia pintu dibuka. Aku melihat sosok yang tidak pernah ku sangka. Jeremy.
Kembali emosiku mulai memuncak. Aku mengambil bantal dan melemparkan itu padanya. Aku lempar semua bantalku pada dia dan yang membuatku kesal, dia sigap menangkap itu semua. Aku kembali menangis dan akhirnya aku terduduk.
“Elo kenapa?”
“KELUAR!”
“Ra?”
“KELUAR! GUE BILANG KELUAR!”
Jeremy masih tidak pergi walaupun sudah tidak menjawabku.
“AKU BILANG KELUAR!!!! KELUAR!! NGERTI GAK SIH??”
“Gue...”
“Hik, keluaaaarr... Kenapa sih nggak mau ngerti?” suaraku mulai melemah. Aku nyaris nggak punya energi untuk berteriak lagi. Suaraku mulai tercampur dengan suara isakan.
Aku senang akhirnya, Jeremy keluar. Sempat ku lihat sebelum keluar, dia membawa plastik berisi buku-buku yang tidak aku tahu buku apa. Selanjutnya aku mulai menangis lagi. Kimmie, dia ikut menangis. Tidak pernah dia melihatku seperti ini. Dia berlari ke ujung kamar, singgasana kesayangannya lalu mengambil sehelai kain dan membawanya padaku. Setan kecil ini, batinku terharu. Makhluk mungil ini bahkan mengerti bagaimana cara untuk menghapus air mata.
Sekali lagi, aku dengar suara langkah. Aku ingat suara langkah itu. Suara yang ternyata aku rindukan dan aku butuhkan saat ini. Suara langkah Bi Nana. Ya, dia bahkan lebih mencintaiku dibandingkan mamaku sendiri. Aku baru sadar bahwa prolog dari ceritaku ini salah. Aku mungkin belum cukup bahagia. Tepatnya, aku belum tahu di mana letak kebahagiaanku. Bi Nana, wajahnya menatapku penuh kasih sekaligus iba. Berjalan pelan dan memelukku hangat. Aku rindu pelukan itu. Pelukan tulus yang tidak pernah kudapatkan dari mamaku sendiri. Mama kandungku, Clara Andrea. Bahkan mungkin, aku masih belum mengenal betul siapa dia.
“Non Tara... kok begini?” suaranya lembut, khawatir dan perhatian membuatku merasa sedikit tenang. Aku hanya tidak bisa menjawabnya dan hanya membalasnya dengan tangisan aku sendiri.
“Non, jangan seperti ini lagi ya?” Bi Nana ikut menangis membuatku merasa bersalah sejadi-jadinya. “Manusia pasti punya masalah. Bibi mungkin cuma pembantu tua tetapi Non bisa percaya sama Bibi. Bibi sayang sekali sama Non.” katanya lagi.
“Aku kesepian.” akhirnya jawaban tolol itu yang aku keluarkan. Nyaris tak terdengar. Bi Nana kembali memelukku lebih erat.
“Nggak akan pernah. Selama ada Bibi, semua nggak akan terasa sepi. Non Tara percaya kan?” katanya meyakinkanku.
Setelah lama, kemudian aku mengangguk. Kimmie, dia juga mulai mencium kakiku dan matanya menatapku seolah berkata,”Jangan sedih.”
Mungkin aku yang tolol. Kata siapa aku kesepian. Aku masih punya Kimmie dan Bi Nana. Mungkin mereka sudah cukup. Sekarang aku benar-benar merasa kelelahan. Bi Nana membantuku memapahku ke kasur kemudian membereskan kamarku yang nyaris seperti kapal pecah. Aku mulai tertidur. Selang beberapa menit kemudian, Bi Nana membangunkanku. Wajahnya mencurigakan lalu dia berkata padaku, “Sekarang Non istirahat di kamar. Ada apa-apa tinggal pencet bel aja. Non jangan turun! Kali ini aja Non nurut sama Bibi.” katanya kemudian dia meninggalkan kamarku. Aku terlalu lelah untuk berpikir dan kemudian aku melanjutkan tidurku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar